Error
page not found
The page you are looking for is not available and might have been removed, its name changed or is temprarily unavailable.
Try to find a page

Umroh bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci. Ia adalah perjalanan hati, sebuah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbarui keimanan, memohon ampunan, serta membawa pulang semangat baru untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Perjalanan umroh membutuhkan persiapan yang matang. Semakin baik persiapan dilakukan, semakin besar peluang jamaah menjalani ibadah dengan tenang dan fokus.
Selain persiapan pribadi, pemilihan penyelenggara perjalanan umroh juga menjadi hal yang sangat penting.
Jangan mudah tergiur oleh harga murah tanpa memahami apa saja yang termasuk dalam paket.
The page you are looking for is not available and might have been removed, its name changed or is temprarily unavailable.

Umroh bukan sekadar perjalanan ribuan kilometer menuju Tanah Suci. Ia adalah perjalanan hati untuk mendekat kepada Allah SWT.
Karena itu, jangan jadikan umroh hanya sebagai perjalanan yang ingin kita abadikan dalam foto dan cerita. Jadikanlah ia sebagai perjalanan yang mengubah hati, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sebab perjalanan terbaik bukan hanya perjalanan yang membawa kita sampai ke Tanah Suci, tetapi perjalanan yang membuat kita pulang sebagai pribadi yang lebih baik daripada ketika kita berangkat.
Kata umrah (عُمْرَة) berasal dari bahasa Arab yang berkaitan dengan makna ziarah atau berkunjung. Dalam konteks ibadah, umrah berarti mengunjungi Baitullah (Ka'bah) untuk melaksanakan ibadah tertentu sesuai tuntunan syariat. Berbeda dengan haji, umrah dapat dilaksanakan kapan saja sepanjang tahun, kecuali dalam kondisi tertentu yang berkaitan dengan pelaksanaan haji..
Ketika seseorang berangkat umrah, sesungguhnya ia sedang melakukan perjalanan menuju rumah Allah, Baitullah.
Perjalanan ini mengandung pesan:
"Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu."
Kalimat Labbaik Allahumma labbaik bukan hanya ucapan lisan. Ia merupakan pernyataan kesiapan seorang hamba untuk tunduk dan memenuhi panggilan Allah.
Karena itu, umrah seharusnya tidak hanya mengubah tempat seseorang, tetapi juga mengubah hati dan kehidupannya.
Ihram mengajarkan manusia untuk melepaskan berbagai simbol duniawi. Pakaian ihram yang sederhana mengingatkan bahwa di hadapan Allah:
Tawaf dilakukan dengan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran. Secara spiritual, tawaf dapat menjadi simbol bahwa kehidupan seorang Muslim seharusnya berpusat kepada Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menjadikan:
Sa'i dilakukan dengan berjalan antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Ibadah ini mengingatkan kita kepada perjuangan Siti Hajar ketika mencari air untuk Nabi Ismail AS.
Ada pelajaran yang sangat besar di dalamnya.
Berdoa saja tidak cukup tanpa usaha.
Siti Hajar berlari dan berusaha mencari pertolongan, sementara hatinya tetap bergantung kepada Allah.
Maka sa'i mengajarkan:
Berusaha sekuat tenaga, kemudian serahkan hasilnya kepada Allah.
Setelah menyelesaikan rangkaian ibadah umrah, jamaah melakukan tahallul dengan mencukur atau memotong rambut. Ini bukan sekadar memotong rambut. Secara spiritual, tahallul dapat dimaknai sebagai simbol pelepasan dan pembaruan diri.
Seolah-olah seorang jamaah berkata:
"Ya Allah, aku ingin meninggalkan dosa, kesalahan dan kebiasaan burukku. Aku ingin kembali menjadi manusia yang lebih baik."
Inilah salah satu makna umrah yang paling dalam. Seseorang mungkin mampu membeli tiket pesawat, hotel dan paket perjalanan. Tetapi perjalanan menuju Allah membutuhkan hati yang benar-benar ingin mendekat kepada-Nya.
Karena itu, umrah bukan sekadar:
Pekanbaru → Jeddah → Makkah → Madinah → pulang.
Tetapi lebih dalam:
Dunia → Allah → kembali ke dunia dengan hati yang berubah.
Ukuran keberhasilan umrah bukan hanya apakah seseorang sudah pernah melihat Ka'bah. Yang lebih penting adalah:
Apakah setelah pulang ia menjadi manusia yang lebih baik?, misalnya
Kalau saya harus merangkum makna umrah dalam satu kalimat:
"Umrah adalah perjalanan seorang hamba menuju Baitullah untuk memenuhi panggilan Allah, membersihkan hati, memperbarui iman, dan pulang dengan tekad menjadi manusia yang lebih dekat kepada-Nya."
Dan mungkin ada satu makna yang sangat indah:
"Kita berangkat membawa banyak keinginan kepada Allah, tetapi semoga kita pulang membawa sesuatu yang lebih besar: hati yang lebih dekat kepada Allah."